polantas kok ga ngerti lalu lintas sih?

Dari Tugu Kujang saya akan menuju Botani Square, ketika saya menyebrang di zebra cross pada saat lampu merah, ada motor yang melintas. Untuk menghindari terjadinya tabrakan, saya refleks berhenti dan motor tersebut membanting stirnya ke arah kiri. Ternyata dari sebelah kiri ada motor lain yang melintas, dan mengakibatkan pengendara dan yang diboncengnya terjatuh.

Tepat pada saat itu, polantas yang belakangan saya tahu bernama Bapak Ustam meneriaki saya, “ITU YANG NYEBRANG LIAT-LIAT LAMPU KALAU NYEBRANG!!” belum selesai rasa sakit hati saya karena diteriaki Bapak Ustam, pengendara motor  yang terjatuh sambil memberdirikan motornya membentak saya,”HATI-HATI DONG KALO NYEBRANG!!”

Pejalan kaki (saya) dibentak Polantas karena menyebrang di zebra cross pada saat lampu merah sehingga mengakibatkan (saya rasa kata mengakibatkan kurang tepat) dua motor yang sedang melintas (atau lebih tepatnya menerobos lampu merah) mengalami kecelakaan. Kalau melihat deskripsi tersebut, saya yakin semua orang yang melihat kejadiannya akan bertanya-tanya, “Dimana letak kesalahan Si Pejalan Kaki??”

Di bawah ini akan saya jabarkan pernyataan-pernyataan yang membuktikan polisi tidak pernah salah:

  1. Lihat lampu kalau nyebrang!” sudah pasti maksud beliau adalah menyebrang pada saat lampu sedang merah, betul?? Ketika saya jelaskan, justru saya menyebrang ketika lampu merah, polantas itu membuat pernyataan lain, yaitu:
  2. Ngeles kedua, “Lihat kondisi kalau nyebrang” Mmh, gimana? Gimana? Saya masih kurang paham, maksud beliau kalau pejalan kaki menyebrang di zebra cross pada saat lampu merah, dan ketika itu ada kendaraan lain yang akan melintas (atau menerobos lampu merah?), sebaiknya pejalan kaki menunda niatnya untuk menyebrang jalan dan mempersilakan kendaraan itu melintas (atau menerobos lampu merah?), “Mangga..ti payun.” (silakan, duluan).
  3. Ngeles ketiga, “Kadang pada saat lampu merah, polantas akan mempersilakan mobil untuk terus jalan, karena lampu lalu lintas buatan manusia, untuk itu kewenangan mengatur lalu lintas ada pada polantas”. Oke, untuk kondisi seperti itu, saya paham betul karena saya sering mengalaminya, sebab Bogor kan macetnya nggak ilang-ilang sejak saya pake baju merah putih (sekitar 15 tahun yang lalu). Perlu saya laporkan disini, pembaca, saat itu pukul 21.30 wib, kondisi jalan sedang tidak ramai, dan jalan one way.
  4. Ngeles keempat, “Tadi saya teriak karena luapan emosi saja, maksudnya hati-hati kalau nyebrang. Namanya juga sudah malam dan tekanan pekerjaan di jalanan yang ramai.” Lho? Lho?? Itu kan risiko kerja yang tidak bisa dijadikan alasan, dan saya rasa semua yang memiliki akal sehat akan sependapat dengan saya kalau itu bukan teriakan memperingatkan untuk berhati-hati, tetapi teriakan menyalahkan.

Memang sih, kejadiannya sudah selesai, ditandai dengan bersalam-salaman, tapi saya mengambil poin-poin penting, antara lain:

  1. Meskipun sudah mentaati peraturan, belum tentu menjadi pihak yang dibenarkan.
  2. Pihak yang mengalami kecelakaan bukan berarti korban. Mengapa tidak melihat dari sudut pandang, kecelakaan terjadi karena kelalaiannya sendiri?
  3. Di jalanan yang dapat dikatakan lengkap peralatan lalu lintasnya (zebra cross dan lampu lalu lintas) saja, pejalan kaki masih sulit untuk menyebrang, bagaimana dengan perempatan tanpa lampu lalu lintas? Bagaimana dengan jalan tanpa zebra cross?
  4. Menyimpang dari kasus saya, tapi masih berhubungan dengan poin di atas, hak pejalan kaki mulai tersingkirkan, sepemahaman saya (dan saya yakin seluruh Pemda dan polantas paham), pejalan kaki ada pada prioritas pertama, bagaimana dengan trotoar yang malah dijadikan tempat berjualan?
  5. Kadang orang malu mengakui kesalahannya. Dalam kasus saya, saya rasa dua pengendara sepeda motor itu tahu mereka yang salah. Apa salahnya sih bilang, “Maaf, tadi saya jatuh karena kesalahan saya sendiri. Saya kira tadi saya sempat melewati lampu merah mengingat jalanan kosong. Sekali lagi, maafkan saya” dan saya pun menjawab, “Maaf juga telah membuat anda jatuh, tapi lukanya nggak parah kan?” diakhiri dengan bersalam-salaman. DAMAI DUNIA.. indahnyaaa..
Dipublikasi di si inong oneng beraksi | 134 Komentar

apaPUN yang penting enak didenger

aku hitam kamu pun putih
aku air kamu pun api
aku siang kamu pun malam
aku tidak pernah peduli

(Bait pertama lagu Juliette- Hitam Putih)

Ngerasa ada keanehan ga sih?? Gua rasa J.S Badudu yang sedang duduk santai sampil ngupi, akan langsung meresahkan nasib Bahasa Indonesia ke depannya.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata pun berarti:

1. juga atau demikian juga: jika Anda pergi, saya — hendak pergi;

2 meski; biar; kendati: mahal — dibelinya juga;

3 saja …: berdiri — tidak dapat, apalagi berjalan; apa — dimakannya (jua);

Ini sih namanya apaPUN yang penting enak didenger, biarPUN enak didenger kalau ga sesuai dengan bahasa Indonesia ya risih juga. BagaimanaPUN janganlah bergeser dari makna sebenarnya.


Dipublikasi di Ngintip dan nguping orang penting | 318 Komentar

sindrom 1/4 abad

Sindrom 1/4 abad telah dataaang!! Mari disambut dengan hati senaaang!! *menghibur diri*

Katanya sindrom ini diderita bagi wanita yang sudah memasuki usia 25 tahun.

Kalau gua sih kayaknya lebih kepada apa yang gua bayangkan 10 atau 5 tahun yang lalu dengan kehidupan gua yang sekarang berbeda..heuheu..

Terdapat target-target hidup yang gua kira udah tercapai pada usia 24 tahun (dasar penargetan usia 24 tahun yaitu dari tanggal lahir gua, 24 November) tapi harus berubah atau belum tercapai, ada rasa sedikit kecewa, tapi gua yakin ini menurut Allah yang terbaik. Saat ini gua harus lebih berusaha agar 10 tahun kemudian gua ga akan nulis hal seperti ini, tapi akan menulis, “Alhamdulillah, target A, B, dan C terwujud!”

Jadi gua menganggap 25 tahun itu merupakan batas pencapaian cita-cita gua.

Nikah: Dalam bayangan, gua udah nikah sebelum 24 tahun, dan umur 25 tahun udah punya anak 1.

Karir: Pekerjaan gua saat ini jauh berbeda dari bayangan gua, dan tampaknya untuk mengejar cita-cita gua itu agak kecil peluangnya. Tapi bukan berarti gua nggak mensyukuri pekerjaan gua saat ini, gua hanya harus merubah target dalam bidang karir ini.

Renungan di usia 1/4 abad ini:

  • Mungkin pada saat 10 atau 5 tahun yang lalu itu, gua kurang fokus dalam meraih target hidup gua..
  • Apapun rencana yang gua bikin, tetap saja Allah yang menentukan yang terbaik buat gua
  • Membuat rencana dan target baru, kemudian buat langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mencapainya
  • Bersyukur
Dipublikasi di keluarga dodol | 412 Komentar

Bank Century vs Bank Sianturi

Dalam Sidang Paripurna nanti akan dibahas kasus Bank Sianturi

Kalimat itu dilontarkan oleh pimpinan Panitia Akuntabilitas Publik (PAP) DPD RI pada Rapat audiensi dengan BMTRI, didengar oleh sang notulen rapat yang ngikik nahan ketawa di balik laptop.

Dipublikasi di LuV mY JoB!, Ngintip dan nguping orang penting | 50 Komentar

berapa aja seiklasnya

whaaattt??!!

Bukannya bikin SKCK (Surat Keterangan Catatan Kepolisian) itu gratis ya? Harusnya kan bagian dari pelayanan dan fasilitas kita sebagai warga negara Indonesia, ya ga sih?

Pengambilan sidik jari juga dikenakan “biaya administrasi” Rp10.000, padahal jelas-jelas ga ada papan pemberitahuan tarif. Bukan masalahin Rp10.000 nya, kalau memang ada biaya administrasi sebesar  Rp10.000, ya dengan suka rela gua bayar kewajiban gua itu, tapi ini kan ga transparan.

Pas ngambil SKCK nya pun petugasnya bilang, “Bayar aja seiklasnya!” Kalau gua ga iklas gimana, paaaa??? Haduuuh, kenapa sih kerja itu harus pake tip segala..heran!!!

Dipublikasi di keluarga dodol | 6 Komentar

Go*lok!!

Astaghfirullah..ngejengkang gua dengernya… Kata “goblok” itu keluar dari mulut anak kecil usia 7 tahun. Ketika ditegur ibunya, “Jangan ngomong kayak gitu dong, malu tuh sama tante Icha”, makin ngejengkang lagi pas denger jawaban tuh anak, “Biarin! Mulut-mulut gua!”

Anaknya bisa dikatakan lucu dengan badannya yang gendut dan sifatnya yang mudah bergaul, dia mengidap penyakit keras dengan harapan hidup kecil.

“Udah malam, nak, kita langsung pulang aja ya,” kata sang ibu. Si anak menjawab, “Kan bunda udah janji mau ajak gua main mandi bola!! Kalo ga jadi, gua mau pasang AC kenceng-kenceng biar gua kedinginan! Biar gua mati!”

Malam ini judulnya gua ngejengkang terus-terusan. Ngeri juga denger anak sekecil itu ngancem ibunya sendiri.

Yang gua ceritain ini merupakan anak yang lahir dari keluarga dengan kondisi ekonomi lebih dari cukup, dan dari rahim seorang ibu *jyaah gaya bahasa gua udah mulai kayak insert investigasi* dengan tingkat  pendidikan tinggi. S2 termasuk tinggi kan? Kalau dibandingkan dengan SMA?

Mungkin anak ini ketika baru bisa ngomong dan dia bilang, “Goblok!” orang di sekitarnya tertawa, jadi dia merasa diperhatikan dan mungkin dalam pikirannya, “Oh, lucu ya kalau aku ngomong goblok”. Jadilah kata goblok merupakan kata yang wajar. Atau mungkin karena dia sedang mengidap penyakit keras, sehingga  sakin sayangnya si ibu sampai dia membiarkan apa yang akan dilakukan si anak..

Suatu ketika gua satu mobil dengan Ibu si anak itu. Mobil yang kami naiki disalip sama mobil lain dan hampir terserempet, Ibu si anak itu membuka kaca dan berteriak, “HEH! BAWA MOBIL YANG BENER! DASAR GOBLOK!!!”

Oke! Sekarang gua tau dari mana kata “Goblok” itu berasal..

Gua rasa pendidikan seorang ibu bukanlah hal utama dalam mendidik dan menghasilkan anak pintar menjaga mulutnya dengan kata-kata yang sopan. Saat ini dengan bangga gua katakan, “Ibu saya pendidikan terakhirnya SMA” tapi seumur hidup gua yang hampir 1/4 abad ini, ga pernah terdengar satu kata kasar pun terlontar dari mulut dia.

Dipublikasi di keluarga dodol | 11 Komentar

Tiap hari naik bis masih salah jurusan juga! huhuhu

Kejadiannya Selasa pagi, 6 Oktober 2009.

Seperti biasa, setiap pagi, gua, kakak gua, dan ade gua diantar supir sampai titik tertentu. Kalau kakak gua dan ade gua diturunin di Pangrango Plaza untuk melanjutkan naik angkot 03, sedangkan gua dianter sampai terminal bis Baranangsiang untuk naik bis Jurusan Bogor-Kalideres.

Pagi itu, gua misuh-misuh  gara-gara ade gua belum siap juga padahal kita udah pada nunggu di mobil. Masalahnya, kemarinnya gua udah datang telat, jam 9 baru sampai kantor, makanya walaupun masih ngantuk  gua bela-belain bangun pagi (ga sempet mandi..waakss!!), biar gua terusin tidur  di bis aja.

Sesampainya di terminal pukul 06.20 wib, gua liat bis Bogor-Kalideres merek Cendrawasih baru aja lewat. Huh! dasar si Anip lama, jadi aja terlambat deh. Gua males naik bis yang itu, sebab pasti berdiri.

Gua pun berjalan menghampiri barisan bis di bagian tengah, urutannya adalah barisan bis menuju Kampung Rambutan, Kalideres, dan Tanjung Priok. Calo terminal teriak mempersilakan gua naik bisnya, “Kosong..kosong”, begitu katanya.Gua pun naik bis merek Cendrawasih dan duduk di tempat favorit gua yaitu di bangku tiga deket jendela. Bis pun melaju pukul 06.30 wib

07.20  wib gua bangun, gua intip jendela , keadaan jalanan masih macet, “Oooh, Cawang” pikir gua dan kemudian tidur lagi.

07.30 wib gua bangun lagi dan udah lancar, “Yah, cepet amat udah sampe Kuningan lagi”, gua pun tiduran lagi.

07.35 wib gua bangun lagi dan bingung kenapa ga sampe-sampe, tapi orang-orang juga belum pada turun, “Tenang, belum kelewat kok”

07.40 wib : kondektur teriak, “CEMPAKA PUTIH..CEMPAKA PUTIH”

astaghfirullah!! gua kelewatan jauh dari kantor yaaa..gua pun ikutan turun bis aja, dan pas gua turun bis, gua liat label belakang bisnya adalah BOGOR – TANJUNG PRIOK

huuuuuhh!! oneng..oneng..ONENG!!!!

Sebenernya tanda-tanda ‘kesesatan’ udah gua rasakan di terminal

Tanda pertama

Ketika gua duduk dan ngerasa jarak antar tempat duduk gua dengan tempat duduk depan terlalu sempit, gua pun mulai membanding-bandingkan bis merek Cendrawasih, Garuda, dan Indah Murni, dan pemenangnya adalah Indah Murni (gua dibayar berapa yaaa?? Perasaan muji-muji Indah Murni mulu! wakakak) , nah dari sini gua mikir, “Kok bis yang udah jalan mereknya Cendrawasih, bis yang gua naikin ini juga Cendrawasih. kok boleh ya merek yang sama beruntun?”

Tanda Kedua

Kok “Muka-muka Kalideres” ga gua temukan. Maksudnya, orang-orang yang biasa naik bis bareng gua. Tapi kemudian gua pikir, “Mh, naik bis yang baru jalan kali ya”

Tanda Ketiga

ada perasaan, “Gua naik bis yang bener kan?” Tapi onengnya ga gua liat label jurusannya karena merasa naik tiap hari masa salah sih.

Tanda keempat

Bis jurusan Kalideres biasanya ngetem bisa sampai 30 menit jaraknya antara bis sebelumnya, tapi ini kok cuma 10 menit?

Tanda kelima

Gua liat bis AC  melalui kaca jendela di bagian kanan. Merek yang tertera, GARUDA gua berfikir, ‘Oh, ada merek Garuda ya ke Kampung Rambutan, biasanya juga ga AC, ternyata ada yang AC toh”

Mungkin orang-orang yang lagi di Bis Kalideres dan ngeliat gua duduk di Bis Tanjungpriok, berpikir, “Laaah tuh cewek mau kemana? Kan biasanya naik bis ini.” Dan saat ini gua berpikir, “Ke GR an banget yaa gua diinget sama penumpang bis Kalideres!!”

Gua pun sampai kantor pukul 09.30wib, dengan menaiki bis 498 jurusan Kampung Melayu dan dilanjut bis 119 ke arah Slipi dengan ongkos Rp4000. sepuluh persennya dari harga ojek dari Cempaka Putih-MPR dengan tarif Rp40.000!

Pesan moral:  Jangan suka BT di pagi hari, awal yang ga baik akan berlanjut sampai ke siang hari dan seterusnya,serta jangan lupa baca doa sebelum berpergian..

Dipublikasi di keluarga dodol, Ngintip dan nguping orang penting | 9 Komentar

pengen ke luar negeri pake uang rakyat..

Sebelum lebaran, 4 orang anggota PAH IV DPD RI berangkat ke Korea Selatan dan Filipin selama 4 hari untuk kaji banding mengenai budget office.

2 hari setelah kunjungan ke Korea Selatan, tiba-tiba ada satu anggota DPD RI  2004-2009,  bernama *niiit* yang berasal dari Provinsi *niiiit* merasa dirinya berkepentingan dan memiliki kapasitas untuk mengikuti kaji banding tersebut, sehingga beliau meminta kepada sekretariat PAH IV untuk menyusul ke Filipin.

Otak positif gua: mudah-mudahan beliau memang memberikan kontribusi dan memikirkan nasib rakyat Indonesia.

Otak negatif gua: Ga tau malu banget! Ga dikasih tugas malah pengen ikut-ikutan! Kalau 4  anggota itu tugasnya meninjau korban gempa, gua ga yakin beliau mau ikut nyusul. kasian beliau, belum pernah ke luar negeri kali yaaa..jadi mumpung dibiayain negara, dia bela-belain nyusul deh..

Ssstt..ditambah setelah dari Filipin, 4 anggota yang memang ditugaskan itu pulang ke Indonesia, kalau beliau jalan-jalan ke Malaysia segala..

Dipublikasi di LuV mY JoB!, Ngintip dan nguping orang penting | 329 Komentar

satuoktoberduaribusembilan..20.00wib

Asik..asik..senang..senang..

Alhamdulillah..setelah penantian, perjuangan, dan pengorbanan selama 9 taun, akhirnya si Aa ngelamar juga..nanana..lalala..*senyum-senyum sendiri*

Gua nanya-nanya ke astri, kalau lamaran itu gua harus gimana? Apa diem aja? Apa ikut ngobrol? Apa ngumpet di kamar sambil nguping?

Astri pun menjawab, “Diem aja, neng, jaim..”

Tapi masalahnya, gua kan sering tuh ke rumah si Aa, ketemu sama keluarganya. Keluarganya kan udah tau jeleknya gua kayak gimana *huhuh*. Yang kalau abis makan kadang piringnya dicuci tapi lebih sering kaga, yang kalau dateng suka pake baju pendek, kalau nonton tipi suka tidur-tiduran di karpet,  kalau ngantuk  tinggal rebahan di sofa (mangap-mangapnya juga ketauan dah). Tapi akhirnya gua ikutin juga saran si neng Astri.

Taunya kata neneknya yang biasa dipanggil ‘Ema’, “Icha kok kalau di rumahnya mah diem aja ya?” Ohohoho..aku memang aslinya pendiem, Ma..

Tapi terlepas dari itu, gua tuh terharu juga  pas denger si Teteh (kaka pertamanya si Aa) bilang gini, “maksud kedatangan kami ke sini selain silaturahmi, juga katanya kan Luthfi dan Icha mau menuju serius”

terus raut muka bokap gua tuh yang kayak sedih gitu, ngomongnya juga lambat-lambat, senyumnya juga kayak terpaksa gitu. Sesekali nyeletuk bercanda tapi tampaknya mau menutupi rasa sedihnya. Gua jadi terharu..hikshikshiks..

Karena udah dilamar, gua harus bebenah diri nih. Yang simpel aja dulu, kayak rajin beresin kamar, nggak males-malesan lagi ngurusin kerjaan rumah tangga, kursus masak ma jait juga aah..biar makin disayang..hehehe.. Selain itu, harus sabar, harus positive thinking sama si Aa, harus lebih banyak belajar agama, last but not least, harus perawatan biar cantik..*wkwkwkw*

Alhamdulillah, makasih Allah..

*masih senyum-senyum sendiri*

Dipublikasi di si inong oneng beraksi | 305 Komentar

ssstt..berisik banget deh..

Lagi makan pecel lele sama si Aa di kawasan tempat makan mahasiswa, tiba-tiba mati lampu, ga sampe sedetik, “Aaaaaaaa” terdengar teriakan dari meja tengah yang isinya segerombolan mahasiswa-mahasiswi sedang makan bareng.

Hhhh, ga usah segitunya kaliii!! Kalau mati lampu, ya gelap, terus kenapa?! Gua sih udah lewat masa-masa kayak gitu. Dasar abegeh!!

Kalau lagi di suatu tempat, ada anak SMA pada keketawaan or ngomong kenceng-kenceng kayak yang satu di Aceh satu lagi di Papua, gua suka mikir, “Hhhh, brisik amattt sih!”

Tapi kata si Aa, “Ah, kamu juga  kalau lagi kumpul sama temen-temen kamu, masih kayak gitu.”

Tapi emang jaman-jaman SMP, SMA, kuliah, gua ma temen-temen termasuk yang hobi loncat-loncatan di jalan, keketawaan di angkot, tereak-tereak di tempat makan.

Ternyata hal itu annoying juga yaaa..hahaha *baru sadar ketika mendekati usia 25 tahun*

Gak heran dulu pas lagi nyuci cetak foto (masih jaman foto yang pake klise), sama tukang fotonya dibilang gini, “Nyetaknya gagal mulu nih, pada centil-centil sih” Waks!! namanya juga anak SMA, maaaassss!!!

Pernah juga turun-turun  dari angkot ada yang nyeletuk, “Recet!!” Udah gitu kita malah cekikikan, ga ngerti recet itu apaan..

Peristiwa ini juga dialamin sama Astri. Dia juga bete banget kalau seangkot sama anak sekolah yang pada centil-centil.  *Padahal jaman kuliah, gua ma dia termasuk yang suka ngobrol sambil cekikikan di angkot..hihih*

Ternyata bener juga omongan si Aa, pas gua kumpul-kumpul sama genk-an jaman SMA, tetep aja masih suka teriak-teriak di tempat makan, masih suka ketawa kenceng-kenceng..*huhuh ga sadar umur!*

Dipublikasi di kisah kasih di sekolah | 499 Komentar