aku hitam kamu pun putih
aku air kamu pun api
aku siang kamu pun malam
aku tidak pernah peduli
(Bait pertama lagu Juliette- Hitam Putih)
Ngerasa ada keanehan ga sih?? Gua rasa J.S Badudu yang sedang duduk santai sampil ngupi, akan langsung meresahkan nasib Bahasa Indonesia ke depannya.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata pun berarti:
1. juga atau demikian juga: jika Anda pergi, saya — hendak pergi;
2 meski; biar; kendati: mahal — dibelinya juga;
3 saja …: berdiri — tidak dapat, apalagi berjalan; apa — dimakannya (jua);
Ini sih namanya apaPUN yang penting enak didenger, biarPUN enak didenger kalau ga sesuai dengan bahasa Indonesia ya risih juga. BagaimanaPUN janganlah bergeser dari makna sebenarnya.
Berbagi
Nopember 25th, 2009
Sindrom 1/4 abad telah dataaang!! Mari disambut dengan hati senaaang!! *menghibur diri*
Katanya sindrom ini diderita bagi wanita yang sudah memasuki usia 25 tahun.
Kalau gua sih kayaknya lebih kepada apa yang gua bayangkan 10 atau 5 tahun yang lalu dengan kehidupan gua yang sekarang berbeda..heuheu..
Terdapat target-target hidup yang gua kira udah tercapai pada usia 24 tahun (dasar penargetan usia 24 tahun yaitu dari tanggal lahir gua, 24 November) tapi harus berubah atau belum tercapai, ada rasa sedikit kecewa, tapi gua yakin ini menurut Allah yang terbaik. Saat ini gua harus lebih berusaha agar 10 tahun kemudian gua ga akan nulis hal seperti ini, tapi akan menulis, “Alhamdulillah, target A, B, dan C terwujud!”
Jadi gua menganggap 25 tahun itu merupakan batas pencapaian cita-cita gua.
Nikah: Dalam bayangan, gua udah nikah sebelum 24 tahun, dan umur 25 tahun udah punya anak 1.
Karir: Pekerjaan gua saat ini jauh berbeda dari bayangan gua, dan tampaknya untuk mengejar cita-cita gua itu agak kecil peluangnya. Tapi bukan berarti gua nggak mensyukuri pekerjaan gua saat ini, gua hanya harus merubah target dalam bidang karir ini.
Renungan di usia 1/4 abad ini:
- Mungkin pada saat 10 atau 5 tahun yang lalu itu, gua kurang fokus dalam meraih target hidup gua..
- Apapun rencana yang gua bikin, tetap saja Allah yang menentukan yang terbaik buat gua
- Membuat rencana dan target baru, kemudian buat langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mencapainya
- Bersyukur
Berbagi
Nopember 25th, 2009
Dalam Sidang Paripurna nanti akan dibahas kasus Bank Sianturi
Kalimat itu dilontarkan oleh pimpinan Panitia Akuntabilitas Publik (PAP) DPD RI pada Rapat audiensi dengan BMTRI, didengar oleh sang notulen rapat yang ngikik nahan ketawa di balik laptop.
Berbagi
Nopember 25th, 2009
whaaattt??!!
Bukannya bikin SKCK (Surat Keterangan Catatan Kepolisian) itu gratis ya? Harusnya kan bagian dari pelayanan dan fasilitas kita sebagai warga negara Indonesia, ya ga sih?
Pengambilan sidik jari juga dikenakan “biaya administrasi” Rp10.000, padahal jelas-jelas ga ada papan pemberitahuan tarif. Bukan masalahin Rp10.000 nya, kalau memang ada biaya administrasi sebesar Rp10.000, ya dengan suka rela gua bayar kewajiban gua itu, tapi ini kan ga transparan.
Pas ngambil SKCK nya pun petugasnya bilang, “Bayar aja seiklasnya!” Kalau gua ga iklas gimana, paaaa??? Haduuuh, kenapa sih kerja itu harus pake tip segala..heran!!!
Berbagi
Nopember 13th, 2009
Astaghfirullah..ngejengkang gua dengernya… Kata “goblok” itu keluar dari mulut anak kecil usia 7 tahun. Ketika ditegur ibunya, “Jangan ngomong kayak gitu dong, malu tuh sama tante Icha”, makin ngejengkang lagi pas denger jawaban tuh anak, “Biarin! Mulut-mulut gua!”
Anaknya bisa dikatakan lucu dengan badannya yang gendut dan sifatnya yang mudah bergaul, dia mengidap penyakit keras dengan harapan hidup kecil.
“Udah malam, nak, kita langsung pulang aja ya,” kata sang ibu. Si anak menjawab, “Kan bunda udah janji mau ajak gua main mandi bola!! Kalo ga jadi, gua mau pasang AC kenceng-kenceng biar gua kedinginan! Biar gua mati!”
Malam ini judulnya gua ngejengkang terus-terusan. Ngeri juga denger anak sekecil itu ngancem ibunya sendiri.
Yang gua ceritain ini merupakan anak yang lahir dari keluarga dengan kondisi ekonomi lebih dari cukup, dan dari rahim seorang ibu *jyaah gaya bahasa gua udah mulai kayak insert investigasi* dengan tingkat pendidikan tinggi. S2 termasuk tinggi kan? Kalau dibandingkan dengan SMA?
Mungkin anak ini ketika baru bisa ngomong dan dia bilang, “Goblok!” orang di sekitarnya tertawa, jadi dia merasa diperhatikan dan mungkin dalam pikirannya, “Oh, lucu ya kalau aku ngomong goblok”. Jadilah kata goblok merupakan kata yang wajar. Atau mungkin karena dia sedang mengidap penyakit keras, sehingga sakin sayangnya si ibu sampai dia membiarkan apa yang akan dilakukan si anak..
Suatu ketika gua satu mobil dengan Ibu si anak itu. Mobil yang kami naiki disalip sama mobil lain dan hampir terserempet, Ibu si anak itu membuka kaca dan berteriak, “HEH! BAWA MOBIL YANG BENER! DASAR GOBLOK!!!”
Oke! Sekarang gua tau dari mana kata “Goblok” itu berasal..
Gua rasa pendidikan seorang ibu bukanlah hal utama dalam mendidik dan menghasilkan anak pintar menjaga mulutnya dengan kata-kata yang sopan. Saat ini dengan bangga gua katakan, “Ibu saya pendidikan terakhirnya SMA” tapi seumur hidup gua yang hampir 1/4 abad ini, ga pernah terdengar satu kata kasar pun terlontar dari mulut dia.
Berbagi
Nopember 1st, 2009
Kejadiannya Selasa pagi, 6 Oktober 2009.
Seperti biasa, setiap pagi, gua, kakak gua, dan ade gua diantar supir sampai titik tertentu. Kalau kakak gua dan ade gua diturunin di Pangrango Plaza untuk melanjutkan naik angkot 03, sedangkan gua dianter sampai terminal bis Baranangsiang untuk naik bis Jurusan Bogor-Kalideres.
Pagi itu, gua misuh-misuh gara-gara ade gua belum siap juga padahal kita udah pada nunggu di mobil. Masalahnya, kemarinnya gua udah datang telat, jam 9 baru sampai kantor, makanya walaupun masih ngantuk gua bela-belain bangun pagi (ga sempet mandi..waakss!!), biar gua terusin tidur di bis aja.
Sesampainya di terminal pukul 06.20 wib, gua liat bis Bogor-Kalideres merek Cendrawasih baru aja lewat. Huh! dasar si Anip lama, jadi aja terlambat deh. Gua males naik bis yang itu, sebab pasti berdiri.
Gua pun berjalan menghampiri barisan bis di bagian tengah, urutannya adalah barisan bis menuju Kampung Rambutan, Kalideres, dan Tanjung Priok. Calo terminal teriak mempersilakan gua naik bisnya, “Kosong..kosong”, begitu katanya.Gua pun naik bis merek Cendrawasih dan duduk di tempat favorit gua yaitu di bangku tiga deket jendela. Bis pun melaju pukul 06.30 wib
07.20 wib gua bangun, gua intip jendela , keadaan jalanan masih macet, “Oooh, Cawang” pikir gua dan kemudian tidur lagi.
07.30 wib gua bangun lagi dan udah lancar, “Yah, cepet amat udah sampe Kuningan lagi”, gua pun tiduran lagi.
07.35 wib gua bangun lagi dan bingung kenapa ga sampe-sampe, tapi orang-orang juga belum pada turun, “Tenang, belum kelewat kok”
07.40 wib : kondektur teriak, “CEMPAKA PUTIH..CEMPAKA PUTIH”
astaghfirullah!! gua kelewatan jauh dari kantor yaaa..gua pun ikutan turun bis aja, dan pas gua turun bis, gua liat label belakang bisnya adalah BOGOR - TANJUNG PRIOK
huuuuuhh!! oneng..oneng..ONENG!!!!
Sebenernya tanda-tanda ‘kesesatan’ udah gua rasakan di terminal
Tanda pertama
Ketika gua duduk dan ngerasa jarak antar tempat duduk gua dengan tempat duduk depan terlalu sempit, gua pun mulai membanding-bandingkan bis merek Cendrawasih, Garuda, dan Indah Murni, dan pemenangnya adalah Indah Murni (gua dibayar berapa yaaa?? Perasaan muji-muji Indah Murni mulu! wakakak) , nah dari sini gua mikir, “Kok bis yang udah jalan mereknya Cendrawasih, bis yang gua naikin ini juga Cendrawasih. kok boleh ya merek yang sama beruntun?”
Tanda Kedua
Kok “Muka-muka Kalideres” ga gua temukan. Maksudnya, orang-orang yang biasa naik bis bareng gua. Tapi kemudian gua pikir, “Mh, naik bis yang baru jalan kali ya”
Tanda Ketiga
ada perasaan, “Gua naik bis yang bener kan?” Tapi onengnya ga gua liat label jurusannya karena merasa naik tiap hari masa salah sih.
Tanda keempat
Bis jurusan Kalideres biasanya ngetem bisa sampai 30 menit jaraknya antara bis sebelumnya, tapi ini kok cuma 10 menit?
Tanda kelima
Gua liat bis AC melalui kaca jendela di bagian kanan. Merek yang tertera, GARUDA gua berfikir, ‘Oh, ada merek Garuda ya ke Kampung Rambutan, biasanya juga ga AC, ternyata ada yang AC toh”
Mungkin orang-orang yang lagi di Bis Kalideres dan ngeliat gua duduk di Bis Tanjungpriok, berpikir, “Laaah tuh cewek mau kemana? Kan biasanya naik bis ini.” Dan saat ini gua berpikir, “Ke GR an banget yaa gua diinget sama penumpang bis Kalideres!!”
Gua pun sampai kantor pukul 09.30wib, dengan menaiki bis 498 jurusan Kampung Melayu dan dilanjut bis 119 ke arah Slipi dengan ongkos Rp4000. sepuluh persennya dari harga ojek dari Cempaka Putih-MPR dengan tarif Rp40.000!
Pesan moral: Jangan suka BT di pagi hari, awal yang ga baik akan berlanjut sampai ke siang hari dan seterusnya,serta jangan lupa baca doa sebelum berpergian..
Berbagi
Oktober 10th, 2009
Sebelum lebaran, 4 orang anggota PAH IV DPD RI berangkat ke Korea Selatan dan Filipin selama 4 hari untuk kaji banding mengenai budget office.
2 hari setelah kunjungan ke Korea Selatan, tiba-tiba ada satu anggota DPD RI 2004-2009, bernama *niiit* yang berasal dari Provinsi *niiiit* merasa dirinya berkepentingan dan memiliki kapasitas untuk mengikuti kaji banding tersebut, sehingga beliau meminta kepada sekretariat PAH IV untuk menyusul ke Filipin.
Otak positif gua: mudah-mudahan beliau memang memberikan kontribusi dan memikirkan nasib rakyat Indonesia.
Otak negatif gua: Ga tau malu banget! Ga dikasih tugas malah pengen ikut-ikutan! Kalau 4 anggota itu tugasnya meninjau korban gempa, gua ga yakin beliau mau ikut nyusul. kasian beliau, belum pernah ke luar negeri kali yaaa..jadi mumpung dibiayain negara, dia bela-belain nyusul deh..
Ssstt..ditambah setelah dari Filipin, 4 anggota yang memang ditugaskan itu pulang ke Indonesia, kalau beliau jalan-jalan ke Malaysia segala..
Berbagi
Oktober 4th, 2009
Asik..asik..senang..senang..
Alhamdulillah..setelah penantian, perjuangan, dan pengorbanan selama 9 taun, akhirnya si Aa ngelamar juga..nanana..lalala..*senyum-senyum sendiri*
Gua nanya-nanya ke astri, kalau lamaran itu gua harus gimana? Apa diem aja? Apa ikut ngobrol? Apa ngumpet di kamar sambil nguping?
Astri pun menjawab, “Diem aja, neng, jaim..”
Tapi masalahnya, gua kan sering tuh ke rumah si Aa, ketemu sama keluarganya. Keluarganya kan udah tau jeleknya gua kayak gimana *huhuh*. Yang kalau abis makan kadang piringnya dicuci tapi lebih sering kaga, yang kalau dateng suka pake baju pendek, kalau nonton tipi suka tidur-tiduran di karpet, kalau ngantuk tinggal rebahan di sofa (mangap-mangapnya juga ketauan dah). Tapi akhirnya gua ikutin juga saran si neng Astri.
Taunya kata neneknya yang biasa dipanggil ‘Ema’, “Icha kok kalau di rumahnya mah diem aja ya?” Ohohoho..aku memang aslinya pendiem, Ma..
Tapi terlepas dari itu, gua tuh terharu juga pas denger si Teteh (kaka pertamanya si Aa) bilang gini, “maksud kedatangan kami ke sini selain silaturahmi, juga katanya kan Luthfi dan Icha mau menuju serius”
terus raut muka bokap gua tuh yang kayak sedih gitu, ngomongnya juga lambat-lambat, senyumnya juga kayak terpaksa gitu. Sesekali nyeletuk bercanda tapi tampaknya mau menutupi rasa sedihnya. Gua jadi terharu..hikshikshiks..
Karena udah dilamar, gua harus bebenah diri nih. Yang simpel aja dulu, kayak rajin beresin kamar, nggak males-malesan lagi ngurusin kerjaan rumah tangga, kursus masak ma jait juga aah..biar makin disayang..hehehe.. Selain itu, harus sabar, harus positive thinking sama si Aa, harus lebih banyak belajar agama, last but not least, harus perawatan biar cantik..*wkwkwkw*
Alhamdulillah, makasih Allah..
*masih senyum-senyum sendiri*
Berbagi
Oktober 3rd, 2009
Lagi makan pecel lele sama si Aa di kawasan tempat makan mahasiswa, tiba-tiba mati lampu, ga sampe sedetik, “Aaaaaaaa” terdengar teriakan dari meja tengah yang isinya segerombolan mahasiswa-mahasiswi sedang makan bareng.
Hhhh, ga usah segitunya kaliii!! Kalau mati lampu, ya gelap, terus kenapa?! Gua sih udah lewat masa-masa kayak gitu. Dasar abegeh!!
Kalau lagi di suatu tempat, ada anak SMA pada keketawaan or ngomong kenceng-kenceng kayak yang satu di Aceh satu lagi di Papua, gua suka mikir, “Hhhh, brisik amattt sih!”
Tapi kata si Aa, “Ah, kamu juga kalau lagi kumpul sama temen-temen kamu, masih kayak gitu.”
Tapi emang jaman-jaman SMP, SMA, kuliah, gua ma temen-temen termasuk yang hobi loncat-loncatan di jalan, keketawaan di angkot, tereak-tereak di tempat makan.
Ternyata hal itu annoying juga yaaa..hahaha *baru sadar ketika mendekati usia 25 tahun*
Gak heran dulu pas lagi nyuci cetak foto (masih jaman foto yang pake klise), sama tukang fotonya dibilang gini, “Nyetaknya gagal mulu nih, pada centil-centil sih” Waks!! namanya juga anak SMA, maaaassss!!!
Pernah juga turun-turun dari angkot ada yang nyeletuk, “Recet!!” Udah gitu kita malah cekikikan, ga ngerti recet itu apaan..
Peristiwa ini juga dialamin sama Astri. Dia juga bete banget kalau seangkot sama anak sekolah yang pada centil-centil. *Padahal jaman kuliah, gua ma dia termasuk yang suka ngobrol sambil cekikikan di angkot..hihih*
Ternyata bener juga omongan si Aa, pas gua kumpul-kumpul sama genk-an jaman SMA, tetep aja masih suka teriak-teriak di tempat makan, masih suka ketawa kenceng-kenceng..*huhuh ga sadar umur!*
Berbagi
September 30th, 2009
Huduuuh, sakit infeksi saluran kemih gua kambuh..huhuhu..sakiiiit banget *meskipun ga sesakit yang dua sebelumnya (taun 2000 & 2003) yang sampe ga bisa jalan karena pinggangnya sakit banget*. Kalau udah kambuh gini, gua langsung minum aer putih banyak-banyak, emang obatnya cuma minum yang banyak. Waktu dua sebelumnya sih gua masih nakal, ga denger kata nyokap, gua kira obatnya tidur, hehehe, jadi sampe pinggangnya sakit baru tobat. Setelah tahun 2003 itu kalau kambuh ga pernah parah sampe sakit pinggang, yaaa cuma beser aja mondar-mandir toilet mulu, kayak sekarang ini.
Di bis jurusan Bogor-Kalideres itu tiba-tiba kebelet pipis. Gua berusaha tidur dengan meremin mata tapi rasa kantuk itu kalah dengan rasa sakit. Gua selonjorin kaki tapi masih kerasa juga. Gua duduk tegak, tapi ya Allah, masih ga bisa ketahan! Rasanya pengen nangis..huhuhu
Apa minta ke supirnya buat nepi di pom bensin ya? Tapi kalo penumpang lain marah karena waktunya kehambat gara-gara gua, gimana? Tapi memang yang namanya terdesak, istilahnya mau loncat dari bis juga hayu *eeeeh ga sehiperbolis itu sih, masih pake logika da gua mah* Akhirnya gua beraniin diri berjalan menuju kenek, dan mencolek bahunya, Bapak kenek itu tersenyum dengan ramah. Setelah gua utarakan keinginan gua, dia pun mengiyakan untuk kemudian behenti gerbang tol Cililtan..waaaahh baiknyaaaa…makasiiiih, Bapak Kenek..
Ternyata ga sampe 10 menit, gua udah sampe kantor *sebab biasanya dari gerbang tol cililitan ke kantor bisa 1 -1,5jam*
Terima kasih saya ucapkan kepada Bapak Kenek, Bapak Supir, serta penumpang bis Indah Murni jurusan Bogor - Kalideres. Semoga amalnya dibalas Allah SWT, dan mudah-mudahan pulang kantor penyakit saya ga kambuh lagi. amiiinn
*glek..glek..glek..minum aer putih banyak-banyak sampe kembung*
Berbagi
September 24th, 2009
Previous Posts